Yakin Soal TKA Matematika SD 2026 Nanti Seperti Ini?
|
| Ilustrasi AI Siswa SD Mengerjakan TKA Matematika |
Pelaksanaan TKA Jenjang SD, SMP sudah di depan mata. Bagaimana kesiapan
menghadapi TKA ini?
Melalui situs Pusmendik Kemendikdasmen, pemerintah memberikan kisi-kisi dan
bocoran contoh soalnya. Untuk SD sendiri pada mata pelajaran Matematika, Ada
30 contoh soal yang bisa menjadi bahan latihan bagi para siswa SD. Namun,
penulis mendapati sedikit keresahan dengan contoh soal ini???
Kalau kita perhatikan sekitar 30 contoh soal TKA Matematika SD yang dirilis
di situs Kemendikdasmen, sekilas semuanya terlihat “ideal”. Soalnya
variatif, kontekstual, dan dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir
siswa, bukan sekadar hafalan rumus. Contoh soal sudah mengarah ke model soal
HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang memang sedang didorong dalam
sistem pendidikan kita. Contoh soal TKA bisa dilihat melalui tautan ini https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/tka/view/mata-pelajaran-wajib/sd
Tapi pertanyaannya sekarang: apakah soal seperti itu benar-benar sesuai dengan kondisi riil siswa SD
di Indonesia saat ini?
Kalau kita jujur melihat fakta di lapangan, jawabannya: masih perlu dikaji ulang.
📊 Realita di Lapangan: Pecahan Masih Jadi Momok
|
| Ilustrasi AI Siswa SD Mengerjakan TKA Matematika |
Salah satu pola yang terlihat dari contoh soal TKA tersebut adalah cukup
banyaknya soal yang berkaitan dengan Bilangan Rasional:
- Pecahan
- Bilangan desimal
- Persen
Dari 30 contoh soal TKA Matematika SD ini, ada kurang lebih 15 (土 50%)
soal berisi bilangan rasional. Secara konsep, ini memang
bagian penting dari kurikulum. Tapi dalam praktiknya, materi ini justru
jadi salah satu yang paling sulit dipahami siswa. Banyak siswa yang:
- Masih bingung menyederhanakan pecahan
- Kesulitan melakukan operasi hitung pecahan
- Tidak paham hubungan antara persen, desimal, dan pecahan
- Penerapan pecahan dalam masalah kontekstual kehidupan sehari-hari
Yang lebih menarik, kesulitan ini tidak hanya dialami oleh siswa yang
kemampuan matematikanya rendah. Bahkan siswa yang tergolong “cukup baik” di kelas pun sering tersandung di bagian ini.
⚠️ Masalah Utama: Fondasi Berhitung Belum Kuat
Dari hasil asesmen yang pernah penulis lakukan pada siswa kelas 7 dan 8,
ditemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan:
Lebih dari 60% siswa belum lancar berhitung dasar.
Yang dimaksud berhitung dasar di sini meliputi:
- Penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah
- Perkalian dan pembagian sederhana
- Operasi hitung campuran
- tidak hafal perkalian 1 s/d 10
Ini baru soal hitungan dasar, belum masuk ke soal cerita atau aplikasi
dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, jika di tingkat SMP saja masih
banyak yang belum kuat di dasar, maka kemungkinan besar masalah ini sudah
terbawa sejak SD.
🧑🏫 Fakta Tambahan: Tidak Semua Guru SD Berbasis Matematika
Ada satu hal yang sering luput dari pembahasan, tapi sebenarnya sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, yaitu kondisi guru di lapangan.
Di jenjang SD:
- Tidak semua guru atau wali kelas merupakan sarjana matematika atau PGSD. Mereka mungkin dari sarjana mata pelajaran lainnya.
- Tidak semua memiliki pemahaman mendalam tentang strategi mengajarkan konsep matematika, khususnya untuk soal tipe TKA.
Ini bukan berarti kualitas guru rendah, tetapi memang sistem di SD
menuntut guru untuk menguasai banyak bidang sekaligus (menjadi guru
kelas/wali kelas). Dampaknya, dalam beberapa kondisi:
- Pembelajaran matematika menjadi kurang mendalam.
- Siswa lebih banyak menghafal daripada memahami.
- Latihan soal belum sepenuhnya mengarah ke model asesmen seperti TKA.
🏫 Kesenjangan Antar Sekolah
Selain faktor guru, kesiapan sekolah juga berpengaruh besar. Tidak semua
sekolah memiliki:
- Akses ke latihan soal TKA yang cukup.
- Program khusus persiapan asesmen.
- Pendampingan belajar yang intensif.
Akibatnya, ada kemungkinan beberapa sekolah belum mampu mempersiapkan siswanya menghadapi TKA
secara optimal. Ini bukan soal niat, tapi lebih ke kondisi:
- Keterbatasan fasilitas.
- Kurangnya pelatihan guru.
- Minimnya sumber belajar yang relevan.
🤔 Jadi, Apakah Soal TKA Sudah Tepat Sasaran?
Jika kita gabungkan semua fakta:
- Fondasi berhitung siswa masih lemah.
- Bilangan rasional masih menjadi materi sulit.
- Tidak semua guru berlatar belakang matematika atau PGSD.
- Kesiapan sekolah belum merata.
Maka wajar jika muncul pertanyaan: Apakah komposisi soal TKA saat ini sudah benar-benar sesuai kondisi
siswa?
Kemungkinan besar, jawabannya: belum sepenuhnya tepat.
📌 Usulan: Kembali ke Fondasi
Menurut penulis, akan lebih realistis jika komposisi soal TKA diatur ulang
dengan fokus utama pada:
- Bilangan cacah
- Bilangan bulat
- Operasi hitung dasar
Kenapa ini penting? Karena kemampuan dasar adalah pondasi. Kalau
pondasinya kuat, materi lanjutan akan jauh lebih mudah dipahami.
💬 Pesan untuk Guru dan Siswa
Di luar perdebatan tentang soal, ada hal yang jauh lebih penting:
persiapan kita sendiri. Untuk siswa:
- Jangan hanya menghafal, tapi pahami konsep
- Latih terus berhitung dasar sampai benar-benar lancar
- Biasakan mengerjakan soal tanpa takut salah
Karena kemampuan berhitung itu seperti otot, harus sering dilatih.
Untuk guru:
- Perkuat kembali pembelajaran dasar.
- Lakukan asesmen awal dan asesmen akhir pembelajaran.
- Jangan terburu-buru ke materi sulit jika dasar belum kuat.
- Berikan latihan yang bervariasi, dari yang sederhana sampai kompleks/HOTS.
✍️ Disclaimer
Perlu saya tegaskan bahwa tulisan ini adalah opini pribadi sebagai seorang pengajar yang berlatar belakang pendidikan matematika. Tentu saja:
- Tidak semua orang harus setuju dengan pendapat ini
- Bisa saja ada sudut pandang lain yang berbeda
- Diskusi dan perbedaan pendapat justru sangat penting untuk perbaikan pendidikan
Namun, apa yang saya sampaikan di sini adalah berdasarkan:
- Pengalaman mengajar.
- Hasil asesmen langsung ke siswa.
- Pengamatan kondisi nyata di lapangan.
Dan harapan agar penyusunan soal TKA bisa lebih mempertimbangkan kondisi riil siswa Indonesia namun tetap mendapat kualitas terbaik pendidikan nasional.
🚀 Penutup
|
| Ilustrasi AI Siswa SD Mengerjakan TKA Matematika |
Jadi, kembali ke pertanyaan awal: Yakin soal TKA Matematika SD 2026 nanti
seperti ini?. Mungkin jawabannya bukan salah, tapi harapannya perlu
penyesuaian lagi. Karena tujuan utama pendidikan bukan sekadar membuat
soal yang menantang, tapi memastikan setiap siswa:
- Punya kemampuan berhitung dasar yang kuat.
- Percaya diri dalam berhitung.
- Siap menghadapi tantangan dengan berbagai jenis variasi soal aplikatif.
Kalau berhitung dasar saja masih belum lancar, maka seberapa bagus pun
soal yang dibuat, tetap akan terasa sulit. Dan di situlah kita semua punya
peran untuk memperbaikinya bersama.


